Manusia selalu mencari sebab-sebab dari setiap kejadian yang
disaksikannya. Dia tidak pernah menganggap bahwa sesuatu mungkin
terwujud dengan sendirinya secara kebetulan saja, tanpa sebab. Seorang
sopir yang mobilnya mogok akan turun dari kendaraannya dan memeriksa
kemungkinan sebab-sebab mogoknya mobil itu. Tidak akan pernah terpikir
olehnya bahwa mobilnya akan bisa mogok manakala segala sesuatu berada
dalam kondisi yang prima. Untuk membuat mobilnya bisa berjalan lagi, dia
akan menggunakan cara apa pun yang bisa dilakukannya. Dia tidak akan
pernah duduk-duduk saja menunggu mobilnya bisa berjalan lagi.
Jika seseorang merasa lapar, dia akan berpikir tentang makanan. Jika dia haus, dia akan memikirkan air. Jika dia kedinginan, dia akan mengenakan pakaian tambahan atau menyalakan api. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja sambil meyakinkan dirinya bahwa suatu kebetulan akan menyelesaikan masalahnya. Seseorang yang ingin mendirikan bangunan, meminta jasa seorang arsitek, dan para pekerja bangunan. Dia tidak akan pernah berharap bahwa keinginannya terlaksana dengan sendirinya.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”
Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau atau mengorganisasi eksistensi mereka.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”
Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau mengorganisasi eksistensi mereka.
Kita sendiri tidak memilih kemanusiaan kita atau karakteristik-karakteristik manusiawi kita; kita diciptakan sebagai manusia dan diberi karakteristik-karakteristik kemanusiaan tersebut. Sama halnya, akal kita tidak akan pernah bisa menerima bahwa semua wujud yang ada di alam semesta ini terwujud secara kebetulan saja, dan bahwa sistem wujud itu muncul begitu saja. Akal kita tidak bisa menerima bahwa sejumlah potongan batu bata telah berkumpul bersama-sama secara kebetulan dan dengan sendirinya untuk membentuk sebuah rumah. Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.
Menurut teori peluang, sebagai contoh, bila kita mengocok huruf yang tertulis dalam kertas masing-masing bertuliskan A, B, C hingga Z (ada 26 huruf). Kemudian kita ambil satu demi satu dan diletakkan di atas meja berurutan. Maka peluang kemunculan huruf-huruf tersebut berurutan ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ adalah kurang dari 0,0000000000000000000000000025 atau kurang dari seperempatratus trilyun trilyun.
Dalam tubuh manusia (70 kg) terdapat sekitar 7 trilyun trilyun trilyun atom (99%nya adalah Hidrogen, Oksigen dan Karbon). Bisakah kita bayangkan betapa kecil kemungkinan 7 trilyun trilyun trilyun atom ini membentuk, menyusun, berinteraksi dengan sangat kompleks secara “kebetulan” sehingga seorang manusia mewujud di dunia dengan kelengkapan sistem kehidupannyanya ?
Bagaimana pula dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran manusia dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan kesalingterkaitan?
Bagaimana pula dengan planet bumi yang terdiri atas trilyun trilyun trilyun ….. atom yang tertata sedemikian rapi dengan pergantian musimnya, hukum-hukum geologis, hukum-hukum meteorologi, siklus air, keteraturan arus-arus lautan, dan tak terhitung keteraturan-keteraturan lain?
Bagaimana pula dengan posisi bumi di tatanan tata surya, yang “melayang-layang” tanpa tiang bersama planet-planet lain; dan mengikuti berbagai aturan yang bahkan terukur dengan sangat nyata seperti hukum Keppler? Dengan posisi rotasi yang memungkinkan siklus empat musim? Bagaimana pula tata surya sebagai satu dari 100 milyar bintang yang berputar-putar mengitari pusat galaksi bima sakti?
Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.
Jika seseorang merasa lapar, dia akan berpikir tentang makanan. Jika dia haus, dia akan memikirkan air. Jika dia kedinginan, dia akan mengenakan pakaian tambahan atau menyalakan api. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja sambil meyakinkan dirinya bahwa suatu kebetulan akan menyelesaikan masalahnya. Seseorang yang ingin mendirikan bangunan, meminta jasa seorang arsitek, dan para pekerja bangunan. Dia tidak akan pernah berharap bahwa keinginannya terlaksana dengan sendirinya.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”
Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau atau mengorganisasi eksistensi mereka.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”
Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau mengorganisasi eksistensi mereka.
Kita sendiri tidak memilih kemanusiaan kita atau karakteristik-karakteristik manusiawi kita; kita diciptakan sebagai manusia dan diberi karakteristik-karakteristik kemanusiaan tersebut. Sama halnya, akal kita tidak akan pernah bisa menerima bahwa semua wujud yang ada di alam semesta ini terwujud secara kebetulan saja, dan bahwa sistem wujud itu muncul begitu saja. Akal kita tidak bisa menerima bahwa sejumlah potongan batu bata telah berkumpul bersama-sama secara kebetulan dan dengan sendirinya untuk membentuk sebuah rumah. Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.
Menurut teori peluang, sebagai contoh, bila kita mengocok huruf yang tertulis dalam kertas masing-masing bertuliskan A, B, C hingga Z (ada 26 huruf). Kemudian kita ambil satu demi satu dan diletakkan di atas meja berurutan. Maka peluang kemunculan huruf-huruf tersebut berurutan ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ adalah kurang dari 0,0000000000000000000000000025 atau kurang dari seperempatratus trilyun trilyun.
Dalam tubuh manusia (70 kg) terdapat sekitar 7 trilyun trilyun trilyun atom (99%nya adalah Hidrogen, Oksigen dan Karbon). Bisakah kita bayangkan betapa kecil kemungkinan 7 trilyun trilyun trilyun atom ini membentuk, menyusun, berinteraksi dengan sangat kompleks secara “kebetulan” sehingga seorang manusia mewujud di dunia dengan kelengkapan sistem kehidupannyanya ?
Bagaimana pula dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran manusia dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan kesalingterkaitan?
Bagaimana pula dengan planet bumi yang terdiri atas trilyun trilyun trilyun ….. atom yang tertata sedemikian rapi dengan pergantian musimnya, hukum-hukum geologis, hukum-hukum meteorologi, siklus air, keteraturan arus-arus lautan, dan tak terhitung keteraturan-keteraturan lain?
Bagaimana pula dengan posisi bumi di tatanan tata surya, yang “melayang-layang” tanpa tiang bersama planet-planet lain; dan mengikuti berbagai aturan yang bahkan terukur dengan sangat nyata seperti hukum Keppler? Dengan posisi rotasi yang memungkinkan siklus empat musim? Bagaimana pula tata surya sebagai satu dari 100 milyar bintang yang berputar-putar mengitari pusat galaksi bima sakti?
Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.
Allah SWT berfirman:
“Dia (Musa) berkata,’ Tuhan kami ialahyang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’“ (QS 20(THO HA): 50)
“Sucikanlah Nama Tuhan-mu Yang Maha Tinggi,Yang Menciptakan, dan Menyempurnakan,
Dan yang Menentukan Kadar (masing-masing ) dan Memberi Petunjuk,” (QS 87(AL-A’LA): 1–3)
Al-Ma’ad Bukti (1): Bahwa Ia adalah Mahabijak dan Maha adil
Tuhan Yang Maha Pemurah adalah Bijak, dan tiada
apa pun yang lebih layak disebut Bijak dariNya! Sungguh Dia-lah Yang
Maha Bijak (al-Hakim)! “Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.” (QS 43 (AZ-ZUKHRUF):84) Hal ini telah dijelaskan dalam
Tauhid for Teens , Bukti 9l. Kebijaksanaan dan inayah Ilahi meniscayakan
adanya makna dan tujuan bagi alam ini. Maka, apapun yang mewujud
niscaya baik untuk dirinya sendiri atau perantara untuk tercapainya
kebaikan. “Kebijaksanaan Ilahi” sendiri merupakan konsekuensi sifat Maha
Mengetahui dan Maha Berkehendak Allah, dan menjelaskan prinsip kausa
final dan teleologis alam semesta. Bahwa mustahil Dia Yang Mahabijak
menciptakan semesta, -baik keseluruhannya maupun bagiannya sekecil apa
pun – , sia-sia. Di balik semesta ada suatu Kebijakan Agung yang
melandasi dan meliputinya. Semesta diciptakan untuk mencapai tujuan
tertentu, yang terlimpah dari KemahabijakanNya. Dan Kami tidak
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan
sia-sia, tanpa hikmah. … (QS Shad: 27) Keadilan Ilahi adalah sifatNya
yang merupakan pancaran rahmaniyyah dari Kebijakan Ilahi. Maksud
keadilan Allah adalah tidak mengabaikan kapasitas dan kelayakan setiap
maujud; Dia pasti memberikan sesuatu yang pantas diterima oleh setiap
maujud. Sedangkan, maksud kebijaksanaan Allah adalah fakta bahwa sistem
alam yang Dia ciptakan merupakan sistem yang paling baik dan paling
maslahat, yakni bahwa Allah telah menciptakan sistem alam paling unggul
yang mungkin untuk mewujud. Dalam sebait puisi filosofisnya, Khawajah
Nashiruddin Al-Thusi mengatakan: Tiada aturan sepatut aturan Al-Haqq
Tiada aturan sebaik aturan Al-Haqq Segala yang ada telah mewujud
sebagaimana mestinya Dan tiada yang mewujud tidak semestinya Perlu
dicatat, Kebijakan Ilahi adalah termasuk dalam sifat-sifat Zat Allah ,
sedangkan keadilan tidak berkaitan dengan sifat pengetahuan dan kehendak
Allah, tapi terkait dengan aspek Perbuatan Ilahi, yakni bahwa Adil
termasuk dalam sifat-sifat Perbuatan, bukan sifat-sifat Zat Allah.
Menatap Muhammad Purnama Rindu
Menatap Muhammad purnama rindu
tiada mentari yang tak malu
tiada lidah yang tak kelu
tiada hati yang tak menderu
tiada pula bintang gemintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akuulah geletar cahaya Muhammad, aakulah geletar cahaya Muhammad , aakulah geletarr cahaya Muhammad
dan tiapa pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan mu duhai Muhammad
Menatap Muhammad rembulan rindu
tiada bestari yang tak syahdu
tiada melodi yang tak sendu
tiada jemari yang tak beradu
tiada pula badai taupan yang tak bertiup kencang menahan segenap hasratnya
meronta akuulah dahsyat cahaya Muhammad, aakulah dahsyat kuat Muhammad, aakulah dahsyat cahaya Muhammad
dan tiada pula sepoi yang tak bertiup-tiupan menanti persuaan dengan mu duhai Muhammad
Menatap Muhammad gemerlapan rindu
tiada jauhari yang tak bersatu
tiada cinta yang tak berpadu
tiada rindu yang tak bertalu
tiada hidup yang tak baharu
tiada pula puncak merapi yang tak bergolak kawah menahan segenap takjubnya
meletup aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad
dan tiada pula gempa yang tak bergoyang-goyang gelisah akan pertemuan dengan mu duhai Muhammad
Menatap Muhammad alifnya rindu
tiada ba` yang tak melengkung
tiada ‘ain yang tak mencekung
tiada penglihatan yang tak tercenung
tiada mata yang tak berpalung
tiada pula samudera yang tak menggelegak ombak menahan segenap asmaranya
mendeburr aakulah gelombang cahaya Muhammad, aakulah gelombang cahaya Muhammad , aaa kulah gelombang cahaya Muhammad
dan tiada pula ikan dan buih yang tak menari resah menanti perhelatan denganmu duhai Muhammad
Menatap Muhammad hakikat rindu
tiada mata yang tak nanar
tiada bejana yang tak lubar
tiada pedang yang tak lumar
tiada zirah yang tak lumat
tiada pula bumi-bumi yang tak bergempaan menahan segenap cintanya
menggoncang akulah goncang cahaya Muhammad, aakulah goncang cahaya Muhammad, aakulah goncang cahaya Muhammad
dan tiada pula kendi-kendi yang tak berpecahan menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
Meresapi Muhammad mawar-melati rindu
tiada tangkai yang tak tertekuk
tak pula hidung yang tak tertenung
tiada daun yang tak mendayu
tak pula indera yang tak merenung
tiada pula kata-bahasa yang tak terpatah resah menahan segenap takjubnya
merintih akulah takjub cahaya Muhammad, akulah suci cahaya Muhammad, akulah diam cahaya Muhammad
dan tiada pula lidah-kelu yang tak berdiaman menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
Menatap Muhammad merak rindu
tiada bahari yang tak menderu
tiada anjungan yang tak berderak
tiada hari yang tak menderu
tiada sahara yang tak menggelegak
tiada pula rajawali garuda yang tak melayang tinggi menahan segenap hasratnya
mencericit akulah takjub cantik Muhammad, aakulah takjub cahaya Muhammad, aakulah warna-warni Muhammad
dan tiada pula nuri dan emprit yang tak berkicauan sendu menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
Mengingat segenap Mulia Muhammad
pastilah Tuhan kan bersalawat
tiada Malaikat yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersyafaat
tiada pula pendosa yang tak bergetar takut menjerit
aakulah tujuan kasih Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad
dan tiada pula pendoa yang tak bermajlis salawat hingga sekarat menanti kepastian syafa’atMu duhai Muhammad
Mengingat segenap Indah Muhammad
tiada Zulaikha yang tak ber-Yusuf
tiada Fathimah yang tak ber-‘Ali
tiada Layla yang tak ber-Majnun
tiada Romeo yang tak ber-Yulia
tiada pula kekasih dan pengantin yang tak berpasang-pasangan bercinta merintih
kaamilah cahaya kasih Muhammad, kaamilah cahaya indah Muhammad, kaamilah bidadari cinta Muhammad
dan tiada pula bidadari-bidadara surga yang tak merindukan cahaya Indahmu, duhai Muhammad
Griffin
melukis rembulan dan seribu purnama
lautpun pasang tenang menjulang
burung – burung melayang di bawah purnama
kelepak bayang – nya bak gelombang pasang
mutiara mutiara kesetiaan
kuberikan pada-Mu madu dan racun
kaupilih keduanya
aku pun memilih keduanya
Saat Kau tenggak racun
kutenggak madu
Saat kau tenggak madu
kutenggak racun
Sehingga Saat Kau tiada
Kaunikmati bayang- bayang-Mu dalam jubahku
dan Saat ku tiada
Kau pun tak tahu di mana Kau harus mencari diri – Mu
Sungguh Muhyiddin telah mengatakannya
purnama adalah mentari bagi malam
Kegelapan adalah Cahaya bagi Terang
Kegelapan adalah Air nan Beriakan
Duhai griffin duhai griffin
hingga kaki terpilin penat memilin hingga rinduku merotanku dengan penjalin
tak kujumpai Kau
bak singa berkepala tujuh dan berekor naga, sampai – sampai kukira Kau tak pernah ada?
dulu kukatakan
telah kulewati samudera dan ribuan selat berakitkan bambu
dan Fuji dan Sabzavar
kau tak kujumpai di satu kota pun, di satu rumah pun bahkan di satu masjid pun
padahal sampan bambuku beruratkan safinatun-najah
dan telah kubawa azimat kalimat syahadat
kutebasi taring – taring buaya dengan dzul-fiqar
dan ribuan perih derita dengan tanah Karbala
kutanyai penghuni langit
ia bilang tak ada burung griffin
kutanyai sang ikan Yunus nan penuh ilham
ia bilang tak ada ikan griffin
Hendak kucari engkau di daratan
tapi di samudera tak ada daratan
Mustinya kau di daratan, griffin
Mustinya kau di sela hutan, griffin
Sekiranya di samudra ada daratan
mungkin kucari jejakmu di sana
Sekiranya di samudra ada daratan
mungkinkan kupasang jerat-ku di sana
Duhai Kekasih Maya pujaan
Duhai Kekasih Bayangan pujaan
Ku bercinta dengan bayangan
Ku bercumbu dengan bayangan
Hingga terkadang kupandang Bibir Merah
ternyata mimpi
Dan terkadang kupegangi rangkai rompi-mu
ternyata kumengigau
Seribu bayangan mu, kadang ku pikir kaulah griffin
Kadang ku pikir kau Simurgh
Kadang ku pikir kau adalah buruan
dan aku raja nan memburu mu
Tapi ketika kupentang panah
tak lain ia hanya mengenai gores fata morgana
Hingga kupegang hatiku marah
tak kuat menatap samudra fatamorgana
Di awan biru kucumbu Kekasihku
Nama mu Maya, Nama mu Maya
Biar biarlah kukecup bibirmu Maya
walau kuakan terbangun walau ku akan terbangun
Di sofa-sofa salju aku menggigil
Kauelus aku Maya dengan hangat
Biar eluslah aku dengan bayang – Mu
walau tak sehangat wujud – Mu
percikan kristal salju keputihan tiada batas
berubah bentuk setiap saat setiap tetes tiada batas
kutak tahu di negeri bambu, di manakah kujumpai bayang Mu
atau di dalam kalam guruku, apakah bentuk Cadar Mu?
sekiranya lambaian kelapa bisa mengeluhkan mu
niscaya lebur batangnya menjadi abu
Itu griffin, Itu griffin, katanya meyakinkanku
tapi kukatakan, walau lebur lebur itu hanyalah bayangan
maka adakah ia nan telah menjerat griffin?
katakan padanya kau telah menjeratnya?
atau hanyalah tikus sawah nan kau jerat?
dan kau katakan telah kujerat griffin?
Griffin, Konon Kau Ada
Maya, Konon Kau Ada
Griffin, Konon Kau Indah
Maya, Konon Kau Indah
Kata orang- orang nan Konon menemukan Selendang -Mu
Kata para pendeta nan Konon telah menemukan Senyum-Mu
Kata pelacur-pelacur nan Konon menemukan AmpunanMu
Kata para ahli makrifat nan Konon telah melihat Wujud -Mu
Kucintai Kau Maya
Walau Konon Kau Cantik
Kurindui Kau Maya
Walau Konon Kau -lah Lautan Nyala
Kucintai Kau Maya
Konon
dan aku yakin cintaku
Konon
Yang jelas kuyakin Kau Ada
walau konon
Yang jelas kuyakin Kecupan-Mu
walau konon
ribuan sampan dalam samudera
konon
mencari
konon
lautpun pasang tenang menjulang
burung – burung melayang di bawah purnama
kelepak bayang – nya bak gelombang pasang
mutiara mutiara kesetiaan
kuberikan pada-Mu madu dan racun
kaupilih keduanya
aku pun memilih keduanya
Saat Kau tenggak racun
kutenggak madu
Saat kau tenggak madu
kutenggak racun
Sehingga Saat Kau tiada
Kaunikmati bayang- bayang-Mu dalam jubahku
dan Saat ku tiada
Kau pun tak tahu di mana Kau harus mencari diri – Mu
Sungguh Muhyiddin telah mengatakannya
purnama adalah mentari bagi malam
Kegelapan adalah Cahaya bagi Terang
Kegelapan adalah Air nan Beriakan
Duhai griffin duhai griffin
hingga kaki terpilin penat memilin hingga rinduku merotanku dengan penjalin
tak kujumpai Kau
bak singa berkepala tujuh dan berekor naga, sampai – sampai kukira Kau tak pernah ada?
dulu kukatakan
telah kulewati samudera dan ribuan selat berakitkan bambu
dan Fuji dan Sabzavar
kau tak kujumpai di satu kota pun, di satu rumah pun bahkan di satu masjid pun
padahal sampan bambuku beruratkan safinatun-najah
dan telah kubawa azimat kalimat syahadat
kutebasi taring – taring buaya dengan dzul-fiqar
dan ribuan perih derita dengan tanah Karbala
kutanyai penghuni langit
ia bilang tak ada burung griffin
kutanyai sang ikan Yunus nan penuh ilham
ia bilang tak ada ikan griffin
Hendak kucari engkau di daratan
tapi di samudera tak ada daratan
Mustinya kau di daratan, griffin
Mustinya kau di sela hutan, griffin
Sekiranya di samudra ada daratan
mungkin kucari jejakmu di sana
Sekiranya di samudra ada daratan
mungkinkan kupasang jerat-ku di sana
Duhai Kekasih Maya pujaan
Duhai Kekasih Bayangan pujaan
Ku bercinta dengan bayangan
Ku bercumbu dengan bayangan
Hingga terkadang kupandang Bibir Merah
ternyata mimpi
Dan terkadang kupegangi rangkai rompi-mu
ternyata kumengigau
Seribu bayangan mu, kadang ku pikir kaulah griffin
Kadang ku pikir kau Simurgh
Kadang ku pikir kau adalah buruan
dan aku raja nan memburu mu
Tapi ketika kupentang panah
tak lain ia hanya mengenai gores fata morgana
Hingga kupegang hatiku marah
tak kuat menatap samudra fatamorgana
Di awan biru kucumbu Kekasihku
Nama mu Maya, Nama mu Maya
Biar biarlah kukecup bibirmu Maya
walau kuakan terbangun walau ku akan terbangun
Di sofa-sofa salju aku menggigil
Kauelus aku Maya dengan hangat
Biar eluslah aku dengan bayang – Mu
walau tak sehangat wujud – Mu
percikan kristal salju keputihan tiada batas
berubah bentuk setiap saat setiap tetes tiada batas
kutak tahu di negeri bambu, di manakah kujumpai bayang Mu
atau di dalam kalam guruku, apakah bentuk Cadar Mu?
sekiranya lambaian kelapa bisa mengeluhkan mu
niscaya lebur batangnya menjadi abu
Itu griffin, Itu griffin, katanya meyakinkanku
tapi kukatakan, walau lebur lebur itu hanyalah bayangan
maka adakah ia nan telah menjerat griffin?
katakan padanya kau telah menjeratnya?
atau hanyalah tikus sawah nan kau jerat?
dan kau katakan telah kujerat griffin?
Griffin, Konon Kau Ada
Maya, Konon Kau Ada
Griffin, Konon Kau Indah
Maya, Konon Kau Indah
Kata orang- orang nan Konon menemukan Selendang -Mu
Kata para pendeta nan Konon telah menemukan Senyum-Mu
Kata pelacur-pelacur nan Konon menemukan AmpunanMu
Kata para ahli makrifat nan Konon telah melihat Wujud -Mu
Kucintai Kau Maya
Walau Konon Kau Cantik
Kurindui Kau Maya
Walau Konon Kau -lah Lautan Nyala
Kucintai Kau Maya
Konon
dan aku yakin cintaku
Konon
Yang jelas kuyakin Kau Ada
walau konon
Yang jelas kuyakin Kecupan-Mu
walau konon
ribuan sampan dalam samudera
konon
mencari
konon
Liturgi Anggur
mabuk tersungkur
bersulang anggur
aku tersungkur
berbuih anggur
anggur memerah
anggun lembayung
mata memerah
lidah pun berkidung
kidung pemabuk
kidung pemabuk
anggur asmara
anggur asmara
dalam mimpi aku bermimpi
dalam anggur aku bersulang
dalam kidung aku bermimpi
duduk tepekur aku berdendang
lagu-lagu maharia
lagu-lagu mahalara
lagu-lagu cinta ria
lagu-lagu rindu lara
karena cinta adalah ria
dan rindu adalah lara
karena asmara adalah ria
walau bunga-nya adalah lara
mabuk tiada duka dan suka
mabuk melayang dalam udara
Tuhan tiada duka dan suka
Tuhan menyayang pemabuk lara
anggur asmara melepas akal
yang ada hanyalah rambut yang ikal
penggila cinta tak punya akal
mabuk menyanyi ribuan Ghazal
seribu rubaiat seribu pantun
Si Dara Hadirat terasa santun
sembari sekarat kubaca pantun
walau berkarat hatiku santun
karena anggur memabuk hati
membuatnya wangi bak melati
karena tepekur memanah hati
membuatnya pecah menatap Melati
karena Anggur bertembang rindu
dan mabuk berkicau penuh rayu
karena mabuk aku bersulang rindu
kepada Tuhan aku merayu
memuji Tuhan, Tuhan dan Tuhan
agunglah Tuhan, Tuhan dan Tuhan
Engkau sendirian
bertahta sendirian
Mahkota berkilauan
Wajah Amat Rupawan
Cantik Sekali, Cantik Sekali
Sekarat aku, Menatap sekali
berpendar memerah mesra membayang
bergetar cinta bergetar
tersungkur aku tersungkur rasa
jari bergetar jemari bergetar
arus nikmat yang amat nikmat
dalam lagu-lagu Kekasih
rahmat semata yang amat nikmat
tenggelam dalam lagu Kekasih
anggur membayang
aku membayang
aku bersulang
aku bersulang
tiada sadar
tiada tahu
aku bergetar
tanpa kutahu
mabuk aku dalam doa
selarik bersama sempoyong anggur
buih anggur dalam doa
terhuyung aku jatuh tersungkur
Tuhan, aku berdoa sembari tersungkur
karena mabuk aku tersungkur
berjuta indah Wajah Rupawan
itulah Engkau Kekasih Pujaan
mabuk..
bersulang..
mabuk..
berdendang..
mabuk..
Tuhan
aku mabuk..
Tuhan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar