Minggu, 27 Januari 2013

FILSAFAT ISLAM TENTANG TUHAN

Manusia selalu mencari sebab-sebab dari setiap kejadian yang disaksikannya. Dia tidak pernah menganggap bahwa sesuatu mungkin terwujud dengan sendirinya secara kebetulan saja, tanpa sebab. Seorang sopir yang mobilnya mogok akan turun dari kendaraannya dan memeriksa kemungkinan sebab-sebab mogoknya mobil itu. Tidak akan pernah terpikir olehnya bahwa mobilnya akan bisa mogok manakala segala sesuatu berada dalam kondisi yang prima. Untuk membuat mobilnya bisa berjalan lagi, dia akan menggunakan cara apa pun yang bisa dilakukannya. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja menunggu mobilnya bisa berjalan lagi.
Jika seseorang merasa lapar, dia akan berpikir tentang makanan. Jika dia haus, dia akan memikirkan air. Jika dia kedinginan, dia akan mengenakan pakaian tambahan atau menyalakan api. Dia tidak akan pernah duduk-duduk saja sambil meyakinkan dirinya bahwa suatu kebetulan akan menyelesaikan masalahnya. Seseorang yang ingin mendirikan bangunan, meminta jasa seorang arsitek, dan para pekerja bangunan. Dia tidak akan pernah berharap bahwa keinginannya terlaksana dengan sendirinya.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”
Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau atau mengorganisasi eksistensi mereka.
Bersama dengan maujudnya manusia, gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan-lautan yang luas juga telah ada bersamanya. Dia selamanya telah melihat matahari, bulan, dan bintang bergerak dengan teratur dan terus-menerus melintasi langit.
Meski demikian, orang-orang yang berilmu di dunia, tanpa mengenal lelah, telah mencari sebab-sebab wujud-wujud dan fenomena-fenomena yang menakjubkan itu. Tidak pernah mereka mengatakan: “Selama kita hidup, kita telah menyaksikan benda-benda langit tersebut dalam bentuknya seperti yang sekarang ini. Karena itu, tentu mereka terwujud dengan sendirinya.”
Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebab ini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul, dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanya “ Apakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yang benar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengan sendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?”
Apakah sistem mengagumkan yang berlaku di seluruh alam semesta ini, yang diatur oleh hukum-hukum abadi tanpa kekecualian dan yang membimbing segala sesuatu menuju tujuannya yang unik, dikendalikan oleh suatu kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas, ataukah ia muncul secara kebetulan saja?
Jawaban terhadap pertanyaan ini positif, artinya ke manapun manusia melihat di seluruh penjuru semesta ini, ia akan melihat bukti-bukti yang melimpah akan adanya satu Pencipta dan Kekuatan Pemelihara, sebab manusia melihat bahwa setiap ciptaan itu menikmati anugerah-anugerah wujud dan secara otomatis bergerak mengikuti jalan yang tertentu, akhirnya lenyap dan digantikan makhluk yang lain. Makhluk-makhluk ini tidak pernah mewujudkan dirinya sendiri, menciptakan arah perkembangannya sendiri, ataupun memainkan peran sekecil apa pun dalam menciptakan atau mengorganisasi eksistensi mereka.
Kita sendiri tidak memilih kemanusiaan kita atau karakteristik-karakteristik manusiawi kita; kita diciptakan sebagai manusia dan diberi karakteristik-karakteristik kemanusiaan tersebut. Sama halnya, akal kita tidak akan pernah bisa menerima bahwa semua wujud yang ada di alam semesta ini terwujud secara kebetulan saja, dan bahwa sistem wujud itu muncul begitu saja. Akal kita tidak bisa menerima bahwa sejumlah potongan batu bata telah berkumpul bersama-sama secara kebetulan dan dengan sendirinya untuk membentuk sebuah rumah.   Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud  dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.
Menurut teori peluang, sebagai contoh, bila kita mengocok huruf yang tertulis dalam kertas masing-masing bertuliskan A, B, C hingga Z (ada 26 huruf). Kemudian kita ambil satu demi satu dan diletakkan di atas meja berurutan. Maka peluang kemunculan huruf-huruf tersebut berurutan ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ adalah kurang dari 0,0000000000000000000000000025 atau kurang dari seperempatratus trilyun trilyun.
Dalam tubuh manusia (70 kg) terdapat sekitar 7 trilyun trilyun trilyun atom (99%nya adalah Hidrogen, Oksigen dan Karbon).  Bisakah kita bayangkan betapa kecil kemungkinan 7 trilyun trilyun trilyun atom ini membentuk, menyusun, berinteraksi dengan sangat kompleks secara “kebetulan” sehingga seorang manusia mewujud di dunia dengan kelengkapan sistem kehidupannyanya ?
Bagaimana pula dengan masyarakat manusia yang terdiri atas milyaran manusia dan tak terhitung spesies-spesies tumbuhan dan hewan baik di daratan maupun di lautan yang tertata rapi membentuk rantai-rantai ekosistem dan berbagai keteraturan dan kesalingterkaitan?
Bagaimana pula dengan planet bumi yang terdiri atas trilyun trilyun trilyun ….. atom yang tertata sedemikian rapi dengan pergantian musimnya, hukum-hukum geologis, hukum-hukum meteorologi, siklus air, keteraturan arus-arus lautan, dan tak terhitung keteraturan-keteraturan lain?
Bagaimana pula dengan posisi bumi di tatanan tata surya, yang “melayang-layang” tanpa tiang bersama planet-planet lain; dan mengikuti berbagai aturan yang bahkan terukur dengan sangat nyata seperti hukum Keppler? Dengan posisi rotasi yang memungkinkan siklus empat musim? Bagaimana pula tata surya sebagai satu dari 100 milyar bintang yang berputar-putar mengitari pusat galaksi bima sakti?
Jadi realisme instinktif manusia menyatakan bahwa alam wujud pastilah memiliki satu penopang yang merupakan Sumber wujud  dan Pencipta serta Pemelihara alam semesta, dan bahwa Wujud serta Sumber kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas ini adalah Tuhan, sumber segala wujud dalam sistem eksistensi.
Allah SWT berfirman:
Bukti 1 gb1
“Dia (Musa) berkata,’ Tuhan kami ialahyang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’“ (QS 20(THO HA): 50)
Bukti 1 gb2
“Sucikanlah Nama Tuhan-mu Yang Maha Tinggi,Yang Menciptakan, dan Menyempurnakan,
Dan yang Menentukan Kadar (masing-masing ) dan Memberi Petunjuk,” (QS 87(AL-A’LA): 1–3)

Al-Ma’ad Bukti (1): Bahwa Ia adalah Mahabijak dan Maha adil

Tuhan Yang Maha Pemurah adalah Bijak, dan tiada apa pun yang lebih layak disebut Bijak dariNya! Sungguh Dia-lah Yang Maha Bijak (al-Hakim)! “Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS 43 (AZ-ZUKHRUF):84) Hal ini telah dijelaskan dalam Tauhid for Teens , Bukti 9l. Kebijaksanaan dan inayah Ilahi meniscayakan adanya makna dan tujuan bagi alam ini. Maka, apapun yang mewujud niscaya baik untuk dirinya sendiri atau perantara untuk tercapainya kebaikan. “Kebijaksanaan Ilahi” sendiri merupakan konsekuensi sifat Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak Allah, dan menjelaskan prinsip kausa final dan teleologis alam semesta. Bahwa mustahil Dia Yang Mahabijak menciptakan semesta, -baik keseluruhannya maupun bagiannya sekecil apa pun – , sia-sia. Di balik semesta ada suatu Kebijakan Agung yang melandasi dan meliputinya. Semesta diciptakan untuk mencapai tujuan tertentu, yang terlimpah dari KemahabijakanNya. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia, tanpa hikmah. … (QS Shad: 27) Keadilan Ilahi adalah sifatNya yang merupakan pancaran rahmaniyyah dari Kebijakan Ilahi. Maksud keadilan Allah adalah tidak mengabaikan kapasitas dan kelayakan setiap maujud; Dia pasti memberikan sesuatu yang pantas diterima oleh setiap maujud. Sedangkan, maksud kebijaksanaan Allah adalah fakta bahwa sistem alam yang Dia ciptakan merupakan sistem yang paling baik dan paling maslahat, yakni bahwa Allah telah menciptakan sistem alam paling unggul yang mungkin untuk mewujud. Dalam sebait puisi filosofisnya, Khawajah Nashiruddin Al-Thusi mengatakan: Tiada aturan sepatut aturan Al-Haqq Tiada aturan sebaik aturan Al-Haqq Segala yang ada telah mewujud sebagaimana mestinya Dan tiada yang mewujud tidak semestinya Perlu dicatat, Kebijakan Ilahi adalah termasuk dalam sifat-sifat Zat Allah , sedangkan keadilan tidak berkaitan dengan sifat pengetahuan dan kehendak Allah, tapi terkait dengan aspek Perbuatan Ilahi, yakni bahwa Adil termasuk dalam sifat-sifat Perbuatan, bukan sifat-sifat Zat Allah.

Menatap Muhammad Purnama Rindu

Menatap Muhammad purnama rindu
tiada mentari yang tak malu
tiada lidah yang tak kelu
tiada hati yang tak menderu
tiada pula bintang gemintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akuulah geletar cahaya Muhammad, aakulah geletar cahaya Muhammad , aakulah geletarr cahaya Muhammad
dan tiapa pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan mu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad rembulan rindu
tiada bestari yang tak syahdu
tiada melodi yang tak sendu
tiada jemari yang tak beradu
tiada pula badai taupan yang tak bertiup kencang menahan segenap hasratnya
meronta akuulah dahsyat cahaya Muhammad, aakulah dahsyat kuat Muhammad, aakulah dahsyat cahaya Muhammad
dan tiada pula sepoi yang tak bertiup-tiupan menanti persuaan dengan mu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad gemerlapan rindu
tiada jauhari yang tak bersatu
tiada cinta yang tak berpadu
tiada rindu yang tak bertalu
tiada hidup yang tak baharu
tiada pula puncak merapi yang tak bergolak kawah menahan segenap takjubnya
meletup aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad
dan tiada pula gempa yang tak bergoyang-goyang gelisah akan pertemuan dengan mu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad alifnya rindu
tiada ba` yang tak melengkung
tiada ‘ain yang tak mencekung
tiada penglihatan yang tak tercenung
tiada mata yang tak berpalung
tiada pula samudera yang tak menggelegak ombak menahan segenap asmaranya
mendeburr aakulah gelombang cahaya Muhammad, aakulah gelombang cahaya Muhammad , aaa kulah gelombang cahaya Muhammad
dan tiada pula ikan dan buih yang tak menari resah menanti perhelatan denganmu duhai Muhammad
 
 
Menatap Muhammad hakikat rindu
tiada mata yang tak nanar
tiada bejana yang tak lubar
tiada pedang yang tak lumar
tiada zirah yang tak lumat
tiada pula bumi-bumi yang tak bergempaan menahan segenap cintanya
menggoncang akulah goncang cahaya Muhammad, aakulah goncang cahaya Muhammad, aakulah goncang cahaya Muhammad
dan tiada pula kendi-kendi yang tak berpecahan menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
 
Meresapi Muhammad mawar-melati rindu
tiada tangkai yang tak tertekuk
tak pula hidung yang tak tertenung
tiada daun yang tak mendayu
tak pula indera yang tak merenung
tiada pula kata-bahasa yang tak terpatah resah menahan segenap takjubnya
merintih akulah takjub cahaya Muhammad, akulah suci cahaya Muhammad, akulah diam cahaya Muhammad
dan tiada pula lidah-kelu yang tak berdiaman menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
 
Menatap Muhammad merak rindu
tiada bahari yang tak menderu
tiada anjungan yang tak berderak
tiada hari yang tak menderu
tiada sahara yang tak menggelegak
tiada pula rajawali garuda yang tak melayang tinggi menahan segenap hasratnya
mencericit akulah takjub cantik Muhammad, aakulah takjub cahaya Muhammad,  aakulah warna-warni Muhammad
dan tiada pula nuri dan emprit yang tak berkicauan sendu menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad
 
Mengingat segenap Mulia Muhammad
pastilah Tuhan kan bersalawat
tiada Malaikat yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersyafaat
tiada pula pendosa yang tak bergetar takut menjerit
aakulah tujuan kasih Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad
dan tiada pula pendoa yang tak bermajlis salawat hingga sekarat menanti kepastian syafa’atMu duhai Muhammad
 
Mengingat segenap Indah Muhammad
tiada Zulaikha yang tak ber-Yusuf
tiada Fathimah yang tak ber-‘Ali
tiada Layla yang tak ber-Majnun
tiada Romeo yang tak ber-Yulia
tiada pula kekasih dan pengantin yang tak berpasang-pasangan bercinta merintih
kaamilah cahaya kasih Muhammad, kaamilah cahaya indah Muhammad, kaamilah bidadari cinta Muhammad
dan tiada pula bidadari-bidadara  surga yang tak merindukan cahaya Indahmu, duhai Muhammad

Griffin

melukis rembulan dan seribu purnama
lautpun pasang tenang menjulang
burung – burung melayang di bawah purnama
kelepak bayang – nya bak gelombang  pasang

mutiara mutiara kesetiaan
kuberikan pada-Mu madu dan racun
kaupilih keduanya
aku pun memilih keduanya

Saat Kau tenggak racun
kutenggak madu
Saat kau tenggak madu
kutenggak racun

Sehingga Saat Kau tiada
Kaunikmati bayang- bayang-Mu dalam jubahku
dan Saat ku tiada
Kau pun tak tahu di mana Kau harus mencari diri – Mu

Sungguh Muhyiddin telah mengatakannya
purnama adalah mentari bagi malam
Kegelapan adalah Cahaya bagi Terang
Kegelapan adalah Air nan Beriakan

Duhai griffin duhai griffin
hingga kaki terpilin penat memilin hingga rinduku merotanku dengan penjalin
tak kujumpai Kau
bak singa berkepala tujuh dan berekor naga, sampai – sampai kukira Kau tak pernah ada?

dulu kukatakan
telah kulewati samudera dan ribuan selat berakitkan bambu
dan Fuji dan Sabzavar
kau tak kujumpai di satu kota pun, di satu rumah pun bahkan di satu masjid pun

padahal sampan bambuku beruratkan safinatun-najah
dan telah kubawa azimat kalimat syahadat
kutebasi taring – taring buaya dengan dzul-fiqar
dan ribuan perih derita dengan tanah  Karbala

kutanyai penghuni langit
ia bilang tak ada burung griffin
kutanyai sang ikan Yunus nan penuh ilham
ia bilang tak ada ikan griffin

Hendak kucari engkau di daratan
tapi di samudera tak ada daratan
Mustinya kau di daratan, griffin
Mustinya kau di sela hutan, griffin

Sekiranya di samudra ada daratan
mungkin kucari jejakmu di sana
Sekiranya di samudra ada daratan
mungkinkan kupasang jerat-ku di sana

Duhai Kekasih Maya pujaan
Duhai Kekasih Bayangan pujaan
Ku bercinta dengan bayangan
Ku bercumbu dengan bayangan

Hingga terkadang kupandang Bibir Merah
ternyata mimpi
Dan terkadang kupegangi rangkai rompi-mu
ternyata kumengigau

Seribu bayangan mu, kadang ku pikir kaulah griffin
Kadang ku pikir kau Simurgh
Kadang ku pikir kau adalah buruan
dan aku raja nan memburu mu

Tapi ketika kupentang panah
tak lain ia hanya mengenai gores fata morgana
Hingga kupegang hatiku marah
tak kuat menatap samudra fatamorgana

Di awan biru kucumbu Kekasihku
Nama mu Maya, Nama mu Maya
Biar biarlah kukecup bibirmu Maya
walau kuakan terbangun walau ku akan terbangun

Di sofa-sofa salju aku menggigil
Kauelus aku Maya dengan hangat
Biar eluslah aku dengan bayang – Mu
walau tak sehangat wujud – Mu

percikan kristal salju keputihan tiada batas
berubah bentuk setiap saat setiap tetes tiada batas
kutak tahu di negeri bambu, di manakah kujumpai bayang Mu
atau di dalam kalam  guruku, apakah bentuk Cadar Mu?

sekiranya lambaian kelapa bisa mengeluhkan mu
niscaya lebur batangnya menjadi abu
Itu griffin, Itu griffin, katanya meyakinkanku
tapi kukatakan, walau lebur lebur itu hanyalah bayangan

maka adakah ia nan telah menjerat griffin?
katakan padanya kau telah menjeratnya?
atau hanyalah tikus sawah nan kau jerat?
dan kau katakan telah kujerat griffin?

Griffin, Konon Kau Ada
Maya, Konon Kau Ada
Griffin, Konon Kau Indah
Maya, Konon Kau Indah

Kata orang- orang nan Konon menemukan Selendang -Mu
Kata para pendeta nan Konon telah menemukan Senyum-Mu
Kata pelacur-pelacur nan Konon menemukan AmpunanMu
Kata para ahli makrifat nan Konon telah melihat Wujud -Mu

Kucintai Kau Maya
Walau Konon Kau Cantik
Kurindui Kau Maya
Walau Konon Kau -lah Lautan Nyala

Kucintai Kau Maya
Konon
dan aku yakin cintaku
Konon

Yang jelas kuyakin Kau Ada
walau konon
Yang jelas kuyakin Kecupan-Mu
walau konon

ribuan sampan dalam samudera
konon
mencari
konon

Liturgi Anggur

mabuk tersungkur
bersulang anggur
aku tersungkur
berbuih anggur

anggur memerah
anggun lembayung
mata memerah
lidah pun berkidung

kidung pemabuk
kidung pemabuk
anggur asmara
anggur asmara

dalam mimpi aku bermimpi
dalam anggur aku bersulang
dalam kidung aku bermimpi
duduk tepekur aku berdendang

lagu-lagu maharia
lagu-lagu mahalara
lagu-lagu cinta ria
lagu-lagu rindu lara
karena cinta adalah ria
dan rindu adalah lara
karena asmara adalah ria
walau bunga-nya adalah lara

mabuk tiada duka dan suka
mabuk melayang dalam udara
Tuhan tiada duka dan suka
Tuhan menyayang pemabuk lara

anggur asmara melepas akal
yang ada hanyalah rambut yang ikal
penggila cinta tak punya akal
mabuk menyanyi ribuan Ghazal

seribu rubaiat seribu pantun
Si Dara Hadirat terasa santun
sembari sekarat kubaca pantun
walau berkarat hatiku santun

karena anggur memabuk hati
membuatnya wangi bak melati
karena tepekur memanah hati
membuatnya pecah menatap Melati

karena Anggur bertembang rindu
dan mabuk berkicau penuh rayu
karena mabuk aku bersulang rindu
kepada Tuhan aku merayu

memuji Tuhan, Tuhan dan Tuhan
agunglah Tuhan, Tuhan dan Tuhan
Engkau sendirian
bertahta sendirian

Mahkota berkilauan
Wajah Amat Rupawan
Cantik Sekali, Cantik Sekali
Sekarat aku, Menatap sekali

berpendar memerah mesra membayang
bergetar cinta bergetar
tersungkur aku tersungkur rasa
jari bergetar jemari bergetar

arus nikmat yang amat nikmat
dalam lagu-lagu Kekasih
rahmat semata yang amat nikmat
tenggelam dalam lagu Kekasih

anggur membayang
aku membayang
aku bersulang
aku bersulang

tiada sadar
tiada tahu
aku bergetar
tanpa kutahu

mabuk aku dalam doa
selarik bersama sempoyong anggur
buih anggur dalam doa
terhuyung aku jatuh tersungkur

Tuhan, aku berdoa sembari tersungkur
karena mabuk aku tersungkur
berjuta indah Wajah Rupawan
itulah Engkau Kekasih Pujaan

mabuk..
bersulang..
mabuk..
berdendang..

mabuk..
Tuhan
aku mabuk..
Tuhan

TAUHID AJARAN ISLAM

TAUHID DALAM ISLAM


1. Tauhid diambil kata : Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La Illaha Illallah yang berarti tidak ada Tuhan melainkan Allah. ( al-Baqarah 163 Muhammad 19 ).Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga oleh karenanya Islam dikenal sebagai agama tauhid yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Bahkan gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin ( yang memperjuangkan tauhid ).  Dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, tauhid itu telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah.
2. Ajaran Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad saw, tetapi merupakan ajaran setiap nabi / rasul yang diutus Allah SWt. ( al-Anbiya' 25 ).
Nabi Nuh mengajarkan tauhid ( al-A'raf 59 ).
Nabi Hud mengajarkan tauhid ( Hud 50 ).
Nabi Shalih mengajarkan tauhid ( Hud 61 ).
Nabi Syu'aib mengajarkan tauhid ( Hud 84 ).
Nabi Musa mengajarkan tauhid ( Thoha 13-14 ).
Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga mengajarkan tauhid ( al-Baqarah 133 ).    
Juga Nabi Isa ajarannya adalah tauhid ( al-Maidah 72 ). Dan lain-lain.
3. Urgensi tauhid dalam Islam dapat dilihat antara lain dari :
a. Sejarah perjuangan Rasulullah saw, dimana hampir selama periode Makkah Rasulullah saw mengerahkan usahanya untuk membina tauhid ummat Islam. Rasul selalu menekankan tauhid dalam setiap ajarannya, sebelum seseorang diberi pelajaran lain, maka tauhid ditanamkan lebih dahulu kepada mereka.
b. Setiap ajaran yang menyangkut ibadah mahdloh umpamanya senantiasa mencerminkan jiwa tauhid itu, yakni dilakukan secara langsung tanpa perantara.
c. Setiap perbuatan yang bertentangan dengan jiwa dan sikap tauhid yaitu perbuatan syirik dinilai oleh al-Qur'an sebagai : Dosa yang paling besar : ( an-Nisa' 48 ).  Kesesatan yang paling fatal, ( an-Nisa'116 ).  Sebab diharamkannya masuk sorga ( al-Maidah 72 ).  Dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT ( an-Nisa' 48 ).
4. Manifestasi Tauhid :
I'tikad dan keyakinan tauhid mempunyai konsekuensi bersikap tauhid dan berfikir tauhid seperti ditampakkan pada :
a. Tauhid dalam ibadah dan do'a.  Yaitu tidak ada yang patut disembah kecuali hanya Allah dan tidak ada dzat yang pantas menerima dan memenuhi do'a kecuali hanya Allah. ( Al-Fatihah 5 ).
b. Tauhid dalam mencari nafkah dan berekonomi.  Yaitu tidak ada dzat yang memberi rizki kecuali hanya Allah  ( Hud 6 ). Dan pemilik mutlak dari seluruh apa yang ada adalah Allah SWT. QS.( al-Baqarah 284, an-Nur 33 ).
c. Tauhid dalam melaksanakan pendidikan dan da'wah.  Yaitu bahwa yang menjadikan seseorang itu baik atau buruk hanyalah Allah SWT.  Dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk kepada seseorang ( al-Qoshosh 56, an-Nahl 37 ).
d. Tauhid dalam berpolitik.  Yaitu penguasa yang Maha Muthlaq hanyalah Allah SWT. ( al-Maidah 18, al-Mulk 1 ). Dan seseorang hanya akan memperoleh sesuatu kekuasaan karena anugerah Allah semata-mata ( Ali-Imran 26 ). Dan kemulyaan serta kekuasaan hanyalah kepunyaan Allah SWT.( Yunus 65 ).
e. Tauhid dalam menjalankan hukum.  Bahwa hukum yang benar adalah hukum yang datang dari Allah SWT. Serta sumber kebenaran yang muthlaq adalah Allah SWT. ( Yusuf 40 dan 67  ).
f. Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan, bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali hanya Allah. ( at-Taubah 18, al-Baqarah 150 ).  Tidak ada yang patut dicintai kecuali hanya Allah ( dalam arti yang absolut ) ( at-Taubah 24 ).  Tidak ada yang dapat menghilangkan kemudharatan kecuali hanya Allah. ( Yunus 107 ).  Tidak ada yang memberikan karunia kecuali hanya Allah. ( Ali-Imran 73  ).  Bahkan yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah SWT. ( Ali-Imran 145 ).
g. Sampai pada ucapan sehari-hari yang senantiasa dikembalikan kepada Allah seperti :  Mengawali pekerjaan yang baik dengan Bismillah = atas nama Allah.  Mengakhiri pekerjaan dengan sukses membaca Alhamdulillah = segala puji bagi Allah.  Berjanji dengan ucapan Insya Allah = kalau Allah menghendaki.  Bersumpah dengan WAllahi, BIlahi, TAllahi = demi Allah.  Menghadapi sesuatu kegagalan dengan Masya Allah = semua berjalan atas kehendak Allah.  Mendengar berita orang yang meninggal dunia dengan Inna LIlahi Wa Inna Ilaihi raji'un = kami semua milik Allah dan kami semua akan kembali kepada Allah.  Memohon perlindungan dari sesuatu keadaan yang tidak baik dengan ucapan A'udzu bIlahi mindzalik =  aku berlindung kepada Allah dari keadaan demikian ..Mengagumi sesuatu dengan ucapan Subhanallah = Maha Suci Allah. Terlanjur berbuat khilaf dengan ucapan, Astaghfirullah = aku mohon ampun kepada Allah dan lain-lain.
h. Berhindar dari kepercayaan-kepercayaan, serta sikap-sikap yang dapat mengganggu jiwa dan ruh tauhid seperti :  Mempercayai adanya azimat, takhyul, pelet, meminta-minta kepada selain Allah, mengkultuskan sesuatu selain Allah, melakukan tasybih, musyabihah ( antrofomorfisme ) yaitu menganggap Allah berjisim dan lain-lain.
5. Tauhid yang murni akan melahirkan satu sikap yang tunduk dan patuh kepada Allah, yang disebut al-Qur,an dengan sikap sami'na wa atho'na yaitu kami dengar dan kami patuh. Dan kepada mereka yang tidak patuh dinilai sebagai orang yang mengilah-kan hawa nafsu ( al-Jasiyah 23 ). Nabi bersabda : Tidak berzina orang yang berzina kalau dia beriman dan tidak mencuri  seorang pencuri kalau beriman.

Jumat, 25 Januari 2013

Biodata Pemilik http://www.AIR-TSNALA.blogspot.com

Biodata Pemilik Blog http://www.AIR-TSNALA.blogspot.com

Biodata N Rohman N


Nama Lengkap : Nurul Rohman Nahrowi
Tempat Tanggal Lahir : Sukabumi, 25 Agustus 1997
Alamat : Jln Hegarmanah, Kp Cinangka, RT/RW 06/04, Cicantayan, Sukabumi, Jawa Barat,
Profesi : Pelajar Di MTs. Ulul Al-Baab
 No HP: 0857812750757



Biodata Alan Ramdhani 

Nama Lengkap : Alan Ramdhani
Tempat Tenggal Lahir : Sukabumi, 02 Mei 1997
Alamat : Jln Hegarmanah, Kp Cijati I, RT/RW 05/05, Cicantayan, Sukabumi, Jawa Barat.
Profesi : Pelajar Di MTs. Ulul Al-Baab
No HP : 08157040236


Biodata Iqbal Tawakal

Nama Lengkap : Iqbal Tawakal
Tempat Tanggal Lahir : Sukabumi, 04 Desember 1997
Alamat : Jln KH. Mama Oyon, Kp Cihaur RT/RW 04/04, Cicantayan Sukabumi, Jawa Barat 
Profesi : Pelajar di MTs Ulul Al-Baab
No HP: 085793157930

 

Perkenalan Blog http://www.AIR-TSNALA.blogspot.com

Blog http://www.AIR-TSNALA.blogspot.com
Ketua : N.rohman N
Anggota : Alan Ramdhani; Iqbal Tawakal


Kami Adalah Seorang Pelajar Dari Mts. Ulul Al-Baab, Cihaur, Cicantayan, Sukabumi, ..........
Kami Bercita-cita Setinggi Langit.......... 



 Tentang  Kami,,, Lihat  Blog Selanjutnya............